Jangan Sembarangn Dalam mengonsumsi Anti Biotik

Image

Menurut dia, antibiotik idealnya diberikan ketika seseorang mengalami infeksi akibat kuman maupun jamur. Kalau hanya flu atau demam biasa lantas diberikan antibiotik, maka hal tersebut tidaklah tepat. Jika panas, sebaiknya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Dia mengatakan jika di luar negeri sudah menerapkan hal tersebut. Hal ini dikarenakan pihak asuransi tidak akan membayar bila belum dilakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu. Namun di Indonesia belum menerapkan prosedur tersebut. Tenaga medis seperti dokter banyak yang memberikan antibiotik ke pasien dengan mudahnya agar cepat meredakan infeksi atau panas.

Lanjut mantan rektor UI tersebut, antibiotik memang dapat meredakan panas. Namun harus juga diingat bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa tidak bermanfaat dan malah menyebabkan bakteri menjadi lebih resisten. Dokter dihimbau untuk memberikan antibiotik dengan tepat, rasional, serta harus dilengkapi dengan data-data empiris. Hal yang sama juga harus dilakukan pihak rumah sakit, yakni dengan menyediakan antibiotik sesuai dengan survei. Pasien juga dihimbau untuk bersikap kritis apabila dokter memberikan antibiotik. Jika anda pasien, bertanyalah selalu kepada dokter tentang perlu tidaknya diberikan antibiotik.

Dokter dan apotek tidak boleh sembarangan dalam memberikan antibiotik

Menurut Usman, sebenarnya dokter telah diajarkan tentang tata cara penggunaan antibiotik. Namun sayangnya banyak dari mereka yang enggan “berpikir” tentang penyakit yang diderita pasien dan kemudian langsung memberikan antibiotik. Ke depannya, dia menyarankan perlu adanya sanksi bagi dokter yang sembarangan memberikan antibiotik. Pihak apotek juga diharuskan untuk menjual antibiotik berdasarkan resep dokter saja.